~STALKER CANTIK~
Aku berdiri di ribuan buku yang tertata rapi pada salah satu
rak raksasa di salah satu perpustakaan di tengah – tengah kota Seoul. Kuambil
buku secara asal, lalu segera saja aku mengambil tempat duduk dimana aku biasa
membaca ~yang sudah kuanggap milikku~
Baru sekitar 2 menit aku membaca. Ada seorang wanita berpakaian
rapi seperti petugas ~dia memang petugas perpustakaan ini~ mendekat ke
tempatku.
“ Maaf, apa yang sedang anda lakukan? ” tanya wanita itu.
“ Aku sedang membaca buku. ” jawabku bingung sembari
mengerutkan dahi.
“ Apakah anda bisa membaca buku dengan keadaan terbalik
seperti itu? ” ujarnya sambil tersenyum kecil menertawaiku.
Tersentak aku terdiam sembari membalikan buku & dan
wanita itu meninggalkanku yang sedang menahan malu.
“ Kenapa aku seceroboh ini, Ahhhh... memalukan! Benar-benar
memalukan!” gumamku dengan muka seperti orang bodoh.
Kalian pasti akan menyimpulkan aku sering datang ke tempat
yang biasanya orang – orang ~kecuali para kutu buku~ akan hindari ini. Ya,
setidaknya aku akan kemari seminggu sekali. Tepatnya setiap hari minggu. Kau
berpikiran aku adalah seorang kutu buku?
Kau salah besar....
Aku akan lebih memilih tidur – tiduran sepanjang hari di pulau
kapuk kesayanganku, atau shopping berjam – jam untuk menambah setidaknya
koleksi pakaian & sepatu daripada ke tempat membosankan seperti ini.
Jujur saja, sebenarnya aku tidak benar- benar suka membaca.
Tetapi, sungguh! Aku sering kemari tanpa paksaan dan tentu saja aku memiliki
sebuah alasan. Dan alasanku apalagi kalau bukan karena seorang pria yang duduk
di dekat jendela perpustakaan yang cukup besar. Pria itu menarik perhatianku
kurang lebih sudah 3 bulan ini. Dan bagaimana aku bisa tertarik padanya?
-FLASHBACK-
Aku memasuki pintu besar itu dengan muka tertekuk. Bagaimana
tidak? Di hari minggu yang seharusnya aku bersantai ria, Yuri malah memaksaku
untuk ikut ke tempat yang membosankan ini. Tentu aku akan menolak ajakannya
kalau saja bukan karena tugas sejarah yang guruku berikan.
“ Hey, jangan hanya berdiam diri dengan muka cemberutmu itu!
Cepat bantu aku cari buku untuk bahan-bahan tugas kita. ” intruksi Yuri
sahabatku. Aku hanya berdiri sembari melipat tangan di depan dada dengan muka
cemberut. Dengan berat hati aku ikut mencari buku yang kami perlukan.
“ Kurasa buku ini sangat cocok untuk di jadikan bahan tugas
kita. ” ujar yuri. Aku hanya memandang malas ke arah buku – buku yang sedang
yuri sortir untuk dijadikan bahan tugas kami.
Yaaa, begitu membosankan. Hanya ada belasan rak-rak buku
raksasa, petugas yang sibuk entah mengerjakan apa dan orang-orang yang dengan
tenangnya membaca. Suasana benar-benar hening. Aku tersentak berdiri.
“ Aku akan keluar sebentar. ” ujarku yang sedari tadi sudah
tak tahan di tempat ini.
“Baiklah, jangan lama – lama. ” jawabnya singkat sembari
mengotak-atik buku sejarah sampai-sampai tak memperdulikanku.
Tiba-tiba saat berbalik.
BRAK!!!
“ Ohhh, maafkan aku... Aku yang salah. ” ujarku dengan wajah
bersalah.
“ Aku tidak apa-apa.. Aku juga salah, maaf. ” ujar pria yang
bertabrakan denganku sembari tersenyum kecil.
Deg deg deg deg....
Kenapa jantungku berdetak dengan cepat... Oh My God!! Pandanganku
terpaku padanya.
Aku kembali ke tempat duduk. Pandanganku kembali
memperhatikannya.
Pria berkacamata itu tampak sedang serius membaca bukunya.
Dia sangat tampan. Kulit putih, wajah yang amat lembut, matanya yang bak bulan
sabit terlihat jelas meski terbingkai kacamata dan rambutnya yang kecoklatan
membuatnya terlihat semakin tampan. Oh! My God ... He is so Shining!
Dan tiba – tiba ia menoleh kearahku dan tersenyum kecil
untuk kedua kalinya. Oh God.. Ia benar-benar tampan dan cute! Saat dia
tersenyum kedua matanya akan lenyap dan Oh! Dua lesung pipitnya sangat manis.
Kuharap ini bukan mimpi! Aku membalas senyumnya. Mencoba memberikan senyuman
terbaikku. Tapi percuma, karena senyumku pasti terlihat bodoh.
Ia nampak setengah tertawa, lalu ia kembali terfokus pada buku yang sedang ia baca.
Oh God... apakah ini mimpi? Kucubit pipiku agak keras
membuatku meringis kesakitan. Ini bukan mimpi!
“ Ya! Hana, bukankah tadi kau bilang ingin keluar? ” tanya
yuri.
“ Hana! Jung Hana! kau baik-baik saja kan? ” sebuah tangan
berkibas-kibas di depan wajahku membuatku tersadar. Aku pun mengangguk.
“ Hmm...kau pasti sedang memandangi pria disana itu kan?
Sampai tidak mendengar sahutanku. ” tanyanya sembari mengarahkan dagunya ke
arah pria yang sedari tadi aku pandangi.
“ Huh! Sok tau deh! ” elakku.
“ Kalau kau ingin melihatnya lagi, datang saja setiap hari
minggu kesini. Dia selalu disini dari siang sampai sore. ” ujarnya. Aku
mendelik terkejut.
“ Bagaimana kau tahu, Yuri? ” tanyaku penasaran.
“ Ayo pulang. Aku sudah dapat buku yang kita perlukan. ”
ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku. Ia malah berdiri dan meninggalkanku menuju
penjaga perpustakaan untuk meminta izin meminjam buku - buku yang telah kami
pilih.
“ Ya! Kim Yuri, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?! ”
tanyaku marah.
“ Dua minggu lalu saat aku ke perpustakaan aku melihatnya. Dan
minggu lalu aku juga melihatnya, karena penasaran aku bertanya ke penjaga
perpustakaan. Dan dia bilang, pria itu memang selalu ke perpustakaan setiap
hari Minggu. ” jelas Yuri saat kami berada di kedai eskrim tak jauh dari
perpustakaan kota.
“ Untuk apa kau setiap hari Minggu kesana? Apa jangan-jangan
kau menyukainya? ” tanyaku curiga.
“ Ya! Aku kesana karena kakakku, Minho memaksaku untuk
membantu mencarikan bahan untuk tugas skripsinya. ” Aku mengangguk mendengar
penjelasan Yuri.
-FLASHBACK END-
Dan mulai saat itu aku bertekad setiap hari Minggu untuk
pergi kemari. Apa aku terlihat bodoh? Yaa, kurasa begitu.
Aku berpura-pura fokus membaca buku yang aku pegang ini. Dan
bodohnya aku mengambil buku sastra. Sudah hampir 1 jam aku memandangi
tulisan-tulisan buku ini dan sesekali aku melirik ke arah pria itu. Kulihat ia
tampak sibuk membaca dan sesekali mengetikan sesuatu pada I-padnya. Ia pasti
sedang mengerjakan tugas. Sudah tiga bulan aku menjadi stalkernya(penguntit),
tetapi nampaknya tak ada kemajuan. Aku hanya akan memandanginya dari jauh dan
menunggu hingga ia pulang.
Aku terkejut ketika ia tiba-tiba berdiri dan dengan terburu -
buru memberesi bukunya. Ia lalu berjalan mendekatiku. Ah, lebih tepatnya
melewatiku. Tubuhku seketika membeku ketika ia berjalan semakin mendekat.
Hingga tak sadar ia telah melewatiku & harum parfum manly tercium amat jelas
di hidungku. Rasanya aku mau pingsan.
Aku pun buru - buru membereskan buku. Lalu aku mengikutinya
dari jauh dan berhenti di taman yang tak jauh dari perpustakaan. Aku
bersembunyi di balik pohon yang lumayan besar. Ia membuka tasnya dan mengambil
kamera SLRnya. Dia memotret pemandangan di taman ini. Oh God! dia terlihat
sangat cool saat sedang memotret. Memotret pun juga salah satu kegiatannya.
Setelah membaca buku dia selalu ke taman dan memotret keadaan di sini.
Minggu berikutnya, seperti biasa aku pergi ke perpustakaan.
Dengan semangat membara aku memasuki pintu besar itu dan langsung menuju ke
salah satu rak buku yang berisi novel - novel. Aku segera duduk di tempat pengintaianku.
Tapi.. tumben sekali ia belum datang. Biasanya sebelum aku datang ia sudah ada
di tempatnya. Ah, mungkin saja sebentar lagi ia datang.
Ternyata dugaanku salah. Hampir menjelang sore ia belum juga
datang. Ada apa dengannya? Apa ia sakit? Atau ia sedang berkencan dengan
kekasihnya? Nampaknya ia tak akan datang, akupun memutuskan untuk pulang.
Minggu berikutnya aku kembali ke perpustakaan. Aku bahkan
datang lebih awal dari biasanya, mungkin saja ia datang kemari lebih awal.
Berharap hari ini ia akan datang. Tapi, nampaknya ia tak datang lagi. Hampir
menjelang sore, tetapi ia belum menunjukkan batang hidungnya.
Aku berjalan keluar dari perpustakaan dengan lesu. ‘apa dia
sudah menyelesaikan tugasnya, sehingga tidak datang ke perpustakaan lagi? atau
dia sudah jenuh?’ pikirku.
Hari minggu ini aku kembali ke perpustakaan. Hari ini
merupakan hari penentuanku. Jika ia tak datang hari ini aku akan berhenti
menguntitnya. Kulangkahkan kakiku menuju rak berisi komik dan mengambilnya
secara asal. Tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam perpustakaan. Coba tebak
siapa pria itu? Ya benar, dia adalah pria tampan. Akhirnya dia muncul juga,
sudah hampir 3 minngu ini aku tidak melihatnya.
Aku pun segera menuju tempat pengintaianku. Sesekali Aku
membaca komik dan melihat cover komik
itu bergambar pria animasi yang tampan. Saat aku sibuk melihat gambar – gambar
dalam komik. Aku melirik ke arah pria itu. Dan hasilnya dia tidak ada disana.
Aku pun berdiri dan menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu pria tampan itu
ada di salah satu sudut perpustakaan. Hasilnya, dia tidak ada di sudut manapun.
“ Dia benar – benar menyebalkan. Apa dia tidak tahu bahwa
aku sangat merindukannya?” gumamku sembari menghela nafas denagn berat. Aku pun
memutuskan untuk menaruh komik yang kubaca ke tempat asalnya. Kulangkahkan
kakiku keluar dari tempat ini.
Saat sedang membuka pintu aku menemukan kotak kecil. Karena
penasaran aku mengambilnya dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat lembaran
kertas dan coklat berbentuk bulat. Kertas itu tertulis : “ ikuti coklat ini dan
kau akan menemukan sesuatu. ”
Aku pun segera mengikuti jejak coklat – coklat itu. Dan
akhirnya aku menemukan coklat yang terakhir tepat di depan pintu suatu ruangan.
Aku segera membuka pintu itu dan saat aku masuk, suasana dalam ruangan itu
sangat gelap.
“Apa – apaan ini! Kenapa sangat gelap. Bagaimana aku bisa
menemukan sesuatu dengan keadaan seperti ini.” Gumamku.
Aku pun segera meninggalkan tempat itu. Baru beberapa
langkah, lampu dalam ruangan ini menyala satu per satu. Aku segera menoleh ke
belakang, ingin melihat apa yang terjadi. Saat aku menoleh, aku menemukan di
setiap dinding di ruangan ini terdapat foto – fotoku. Aku memandanginya satu
per satu.
“Wah! ini pakaian yang aku pakai 3 minggu lalu. Dan ini yang
aku pakai miggu lalu. Ini fotoku beberapa menit yang lalu.” Ujarku terkejut
sembari menunjuk foto.
“Siapa yang melakukan semua ini? Siapa orang yang diam –
diam memotretku tanpa izin.” Pikirku negatif.
Langkah kaki seseorang terdengar sangat jelas olehku. Kurasa
seseorang mendekatiku dan kini ia semakin mendekat. Aku ingin segera mungkin
menoleh ke belakang, tetapi aku takut. Siapa tau dia orang jahat atau dia
seorang paparazzi. Langkah kakinya berhenti.
“Apa yang harus aku lakukan? Siapa orang yang ada di
belakangku?” gumamku ketakutan.
“Ini aku, menolehlah ke belakang.” Kata seseorang itu.
Kukerutkan dahiku, heran. Suaranya seperti seorang pria.
Kubuka kedua mataku perlahan dan menoleh ke belakang.
Aku terdiam membeku.
Seorang pria yang beberapa bulan belakangan ini bermain –
main dipikiranku. Seorang pria yang membuatku rela berjam – jam di tempat yang
cukup membosankan. Kini ia berada tepat di depanku.
“Kau...” ucapku lirih
“hmm... ” jawabnya dengan senyuman yang tak kunjung hilang
dari bibirnya.
Oh! Aku rasa, aku lupa bagaimana caranya bernapas.
“ke-ke-kenapa kau....ada disini?” tanyaku terbata – bata.
“Ini semua aku yang membuatnya.” Ujarnya dengan senyuman
mematikan. Aku hanya terdiam menatapnya.
“Kenapa kau selalu menguntitku?” tanya pria tampan.
“Aku! Aku tidak menguntitmu.” Elakku.
“Apa aku ini bodoh? Aku sudah mengetahuinya cukup lama. Kamu
itu terlalu cantik untuk menjadi stalker.” Ujarnya. Aku terdiam dan tersenyum
kecil.
“Aku tidak melihatmu 2 minggu yang lalu?” ujarnya, membuatku
terkejut.
Apa dia bilang? Apa aku tak salah dengar? Bukankah
seharusnya aku yang menanyakan hal itu? Itu berarti dia juga...mencariku?
“Apa kau 2 minggu lalu datang ke perpustakaan?” tanyaku
penasaran tanpa menjawab pertanyaannya.
Ia mengangguk, “Emm, tentu saja. Aku selalu rutin ke sana.
Hanya saja 3 minggu terakhir ini aku datang agak terlambat karena aku harus
bertemu dosen dulu sebelum kemari. ”
“Kenapa di sini banyak sekali gambarku?” tanyaku penasaran.
“Aku diam – diam juga menguntitmu. Dan sesekali aku
memotretmu.” Jawabnya.
Aku terkejut mendengar pengakuannya. Apa aku tidak salah
dengar? Dia menguntitku? Oh! My God.....
“Tak jarang aku juga memperhatikanmu.” Ujarnya.
Deg.. Deg... Deg...
Jantungku berpacu lebih cepat dan tubuhku merasa membeku.
“Aku minta maaf karena diam – diam menguntitmu. Aku tidak
akan menguntitmu lagi.” Ujarku dengan muka bersalah.
“Kenapa kau ingin berhenti? Aku justru merasa senang, karena
orang yang menguntitku adalah stalker cantik sepertimu. Maukah kau berkenalan
denganku?” Jelasnya sambil memegang tanganku.
Aku tersenyum manis. Ini merupakan senyuman terbaikku.
-END-








0 komentar:
Posting Komentar